Jumat, 29 April 2011

SEJARAH & BUDAYA TANAH SERAWAY

Sejarah & Budaya Tanah Seraway
Zuriat Remindang Sakti Gumay Talang
Asal Mula Membuka Rimba Belantara di Tanah Seraway
Kabupaten Bengkulu Selatan

Oleh : Merah Isma’oen (Raja Muda)
Pasirah Kepala Marga Anak Gumay 1945-1955

HAK PENULIS DILINDUNGI UNDANG-UNDANG !

Tanggau Rasau, Pinau Kab. Bengkulu Selatan 1973

SEJARAH DAN BUDAYA TANAH SERAWAY
Oleh : Merah Isma’oen
Pasirah Kepala Marga Anak Gumay
1945 - 1955

Mertandi adalah nama sebuah dusun atau desa yang terletak di tanah Pasemah, Kabupaten Lahat daerah Palembang. Desa tersebut termasuk satu-satunya desa tertua dalam daerah Sumatera Selatan ini. Yaitu kepindahan keturunan nenek moyang turunnya dari Bukit Seguntang sebelum timbulnya Kerajaan Sriwijaya di Kota Palembang sekarang. Di dusun Mertandi bersemayam seorang raja, dahulunya disebut Ramau Ratu, nama beliau Suku Milung. Tentu telah terbayang oleh pembaca sendiri, satu-satunya desa tempat bersemayam seorang raja berkenaan dengan zamannya ialah zaman purba zaman manusianya belum berkembang, tentu sekali desa itu terletak pada tempat yang teguh yang dikirakan tidak akan dapat dimasuki oleh musuh. Kita yakin bahwa dusun itu ramai serta isinya dengan beberapa hulubalang serta orang yang gerot dan kita yakin pula bahwa Tuanku Suku Milung yaitu pemimpinnya tentu seorang yang sakti dan gerot dari segala pimpinannya. Suku Milung mempunyai sembilan orang anak, delapan orang putra dan seorang puteri. Putranya yang pertama bernama Pandjang, yang kedua bernama Remandjang, yang ketiga bernama Indang, yang ke empat bernama Remindang, yang kelima bernama Puntu, yang ke enam bernama Remuntu, yang ketujuh bernama Limpak, yang ke delapan bernama Limparan dan yang ke sembilan bernama Permata Sari. Masing-masing anaknya tentu mempunyai mukjizat atau kesaktian dan kegerotan yang luar biasa. Tuanku Suku Milung tentu berniat supaya anak-anaknya lebih maju dan bersemangat dan semuanya supaya menjadi raja pula. Akan tetapi menurut adat, yang akan menggantikannya bila Tuan raja wafat atau tidak berdaya lagi ialah anak tertua yaitu Pandjang atau Remanjang. Yang lain-lain tentu telah menjadi buah pikiran beliau, maklumlah semua anak-anak itu adalah buah hati, kesayangan yang tiada taranya. Zaman dahulu untuk mencarikan istri anak raja adalah anak raja pula atau setidak-tidaknya anak bangsawan. Untuk mencari putri anak raja atau bangsawan adalah sangat sukar sekali ialah dengan melalui peperangan yang dahsyat dengan menggunakan kesaktian dan kegerotan, karena secara ini telah menjadi cara biasa, tiap-tiap orang yang hendak beristri itu hendaklah memperlihatkan kegerotan dan kesaktian lebih dahulu. Apalagi zaman dahulu seorang raja itu mempunyai kesaktian dan kegerotan yang luar biasa, melebihi dari pimpinannya dan ternama kemana-mana. Hatta setelah anak-anaknya telah beristri, maka suatu hari Tuan raja memanggil semua putra-putrinya untuk berkumpul dalam satu ruangan untuk bermusyawarah, ialah akan menentukan kemauan anak-anaknya, kalu perlu carilah nasib masing-masing dalam mendayungkan bahtera rumah tangganya. Tuan Raja akan mendengarkan usul dari kemauan anak-anaknya yang setimpal dengan kemauan masing-masing. Tuan Raja akan setuju dan menyokong serta membantu sepenuh bantuan. Dalam musyawarah masing-masing anaknya memberiakn pendapat serta menyerahkan tujuan mereka, ikhwal dalam melaksanakan kemauan mereka itu yang sangat berat. Setelah Tuan Raja mendengarkan usul-usul dari putra-putranya beliau memutuskan bahwa segala kemauan dan tujuan putra-putranya disetujui serta akan diikhtiarkan dengan cara setidak-tidaknya sederhana.
Cuma saja Tuan Raja mengatakan kepada anak-anaknya ; “dalam pelaksanaan tujuan kalian itu tidak boleh serentak. Kalau dijadikan serentak tentu tak mungkin akan memenuhi kemauan masing-masing, dan tentunya sunyi Desa Mertandi ini. Apalagi tiap-tiap orang anaknya akan berangkat itu, hendak membawa teman yang banyak dari Desa Mertandi.”

Sesudah pertemuan atau musyawarah Tuan Raja dengan putra-putranya itu Tuan Raja mengumpulkan orang-orang dari dalam lingkungan daerah pimpinan beliau, mengatur siapa-siapa yang akan turut dalam pelaksanaan tujuan masing-masing putranya, terkecualai Pandjang dan Remanjang tidak bermaksud akan berangkat melainkan tetap tinggal di Desa Mertandi karena salah satunya akan menggantikan bila Tuan Raja wafat atau tidak berdaya lagi. Mula-mula yang terdahulu berangkat dengan segala pengikut-pengikutnya ialah Indang. Menurut berita dialah mula-mula menempuh pembukaan rimba belantara di Lintang Kanan, sekarang zuriatnya kebanyakan di Desa Merdanau. Bahasanya sekarang telah berubah dari bahasa Pasemah menjadi bahasa Lintang. Perubahan bahasa Pasemah menjadi bahasa Lintang oleh karena tawanan-tawanan berbagai bahasa atau terpengaruh dengan bahasa lingkungan. Tawanan-tawanan itu didapat dari pertempuran-pertempuran masing-masing untuk mencari penambahan meramaikan desanya. Pemimpin-pemimpin atau Raja-raja di masa itu disebut Ramau Ratu atau panggilan biasa Poyang. Ramau Ratu inilah memerintah dan memimpin rakyat dalam daerahnya. Ramau Ratu di zaman itu ialah orang yang sakti atau keramat. Agamanya disebut agama Dewa. Agama Dewa ini mirip atau hampir bersamaan dengan agama Budha, baik cara dan peraturannya. Agama Dewa ada Imamnya disebutnya Mudim. Tempat berkumpul pelaksanaan agama Dewa itu didirikan balai ditengah dusun atau desa masing-masing, kalau mereka akan mengadakan kenduri maka berkumpul di balai tersebut. Biasanya anak dusun berkumpul di balai itu setahun sekali, namanya Kenduri Keserepatan. Kenduri Keserepatan inilah yang paling ramai, anak cucu masing-masing dari jauh-jauh datang pada hari itu, masing-masing membawa makanan sendiri-sendiri, seperti nasi gulai, makan bersama-sama di dalam balai itu. Menjadi dasar agama Dewa itu ialah; “ndak ughang ndak ughang, ndak dighi ndak dighi, sesame beghagih jangan keduk ke dalam timba batu keluagh, beghutang mbayigh piutang ditagih”. Inilah menjadi dasar hukum, namanya hukum ini “ HUKUM SEPATAU “ tetapi zaman nenek moyang hukum-hukum itu adalah untuk kadar memberi ingat saja kepada rakyat, tidak pernah berlaku disebabkan rakyat boleh dikatakan sangat patuh kepada peraturan raja dan belum ada pengaruh terhadap pelanggaran-pelanggaran adat, mereka masih bersatu erat. Poyang indang telah tetap menjadi Ramau Ratu di Sekujur Lintang. Setelah beberapa lamanya Indang ditetapkan menjadi Ramau Ratu. Maka menyusul pula adiknya Remindang mau berangkat pula akan mencari tempat kediaman. Remindang datang pula kepada ibu bapaknya bahwa beliau minta izin pula akan berangkat mencari tanah yang akan dapat diusahakan, dan ingin akan menegakkan pemerintah otonom seperti Indang. Tuan raja menerima usul anaknya Remindang, maka tuan raja mengadakan musyawarah memanggil atau mengumpulkan rakyat dalam daerah beliau untuk menceritakan usul-usul Remindang, dan memberi tahukan kepada rakyat beliau, mengatakan siapa saja yang akan ikut tujuan Remindang, untuk mencari tempat kediaman yang layak. Tuan raja menentukan siapa saja yang gerot-gerot akan turut Remindang, tuan Raja mulai pula mengatur apa-apa yang akan dibawanya. Seperti senjata-senjata yang biasa seperti kujur, keris, pedang, taming, bebat liong dan lain-lain sebagainya untuk senjata kalau didatangi musuh. Selesai tuan Raja mengumpulkan segala alat yang akan dibawa serta bahan makanan, supaya tak kurang selama perhitungan hingga dapat musim menuai pada tahun dimuka. Setelah semuanya selesai segala bahan-bahan yang akan dibawa maka Tuan Raja mengatur pula ketentuan hari berangkat rombongan Remindang. Semua orang yang akan turut agar bersiap-siap menunggu perintah dari Tuan Raja. Setelah sampai pada hari yang ditentukan segala pengikut-pengikut Remindang yang gerot-gerot seperti : Puyang Pusaran, Puyang Lembu Api Lubuk Asam Karang Cayau, Puyang Pejayau, Puyang Padang Pumpung, Puyang Mangkudumo Merabung Tinggi, Poyang Kinta Rejo Lubuak Kerisiak/ Tanjung Puar Lubuk Tapi, Puyang Janggut di Batu Aji, Puyang Kepingus. Orang-orang tersebut adalah hulubalang yang dibawa oleh Remindang, yang selama ini mereka itu hulubalang Tuan Raja di Mertandi Gumay Talang. Puyang Janggut, Puyang Mangkudumo, Puyang Kintarejo adalah tiga beradik kandung, kedatangan mereka dari Bantan menjadi hulubalang Tuan Raja, orang-orang tersebut diatas adalah hulubalang-hulubalang yang ternama kegerotannya. Pada hari itu orang-orang dalam pimpinan Tuna Raja semua berkumpul di dusun Mertandi, menyelawati rombongan Remindang Sakti akan berangkat merantau. Sampai waktunya akan berangkat matahari sedang setengah naik, apa-apa akan dibawa seseorang telah siap, orang yang akan membawa kiding telah dibelakangnya, orang yang berbingkisan telah dibentalnya, yang berpikulan telah memikul, maka semua rombongan yang akan berangkat berpamitan dengan yang hadir. PENATIA istri REMINDANG SAKTI bersajak atau berpantun sambil meneteskan air mata, tanda kasih akan bercerai sbb:


Bukan jantung dimakan gajah
Gajah berjalan sendirinya
Bukan untung mbatak sengsara
Badan dan nyawe lah ngendakkah

Bakalan jalan dipinggang tebing
Kude tetambang di pelak raje
Tinggalah kakak tinggalah ading
Entah ka lengit tengah segare

Kalu paok di tengah padang
Bulih ndik bulih numpang mandi
Mintak ngan diwe umur panjang
Dapatlah kite betemu agi

Orang yang akan tinggal, mendengar pantun atau sajak dari PENATIA REMINDANG SAKTI, yang akan tinggal menangis tersedu-sedu maklumlah kasih akan bercerai. Di dalam bertangis-tangisan itu Remindang sakti memerintahkan kepada semua rombongan supaya segera berangkat. Dan remindang Sakti mengatakan kepada yang hadir mengucapkan “selamat tinggal”. Arkian berangkatlah segala rombongan itu menuju arah ke selatan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang, hari berjalan terus setelah hampir malam semua rombonga berhenti dan laki-lakinya beringkas membuat pondok-pondok, mau tidak mau pondok-pondok wajib sudah dibuat sebelum hari malam, setelah selesai pondok-pondok bermalamlah rombongan di situ. aduh! Sunyi sepi hening, tak ada kedengaran suatu apapun, tidak lain terdengar bunyi burung hantu dan binatang-binatang hutan. Tidurlah segala anak-anak dan kaum perempuan di tengah-tengah dikelilingi oleh semua laki-laki tetapi segala rombongan belum terasa badan merantau, masih ketawa terbahak-bahak, masih merasakan menebas rimba untuk ladang. Besok harinya mereka berjalan terus menuju ke selatan turun bukit mendaki gunung, luang yang dalam diturunin, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang. Akhirnya setelah petang hari sampai mereka di kaki gunung yang tinggi, bersedia pula mereka pondok tempat bermalam disana dan bermalamlah rombongan mereka itu di kaki gunung tempat mereka berhenti. Sedangkan hari hampir gelap malam, begitulah cara mereka maklumlah bermalam ditengah- tengah riba belantara, jangankan terdengar bunyi manusia lain sedangkan jejaknya tak ada.setelah hari siang, mereka meneruskan perjalanan dengan mendaki gunung yang ke atas mereka bermalam tadi. Lama kelamaan dengan penatnya mereka mendaki gunung itu sampailah rombongan mereka itu di suatu dataran pada puncak gunung itu. Berembuklah mereka. Hasil perembukan mereka ialah mereka akan beristirahat dengan waktu yang belum dapat ditentukan. Maka sengajalah mereka menginap disana beberapa hari untuk melepaskan lelah serta untuk mencari fikiran. Didataran gunung itu duduklah rombongan mereka laki-laki perempuan dan anak-anak serta melihat-lihat berkeliling sambil melepaskan letih baru sudah mendaki gunung yang tinggi tadi. Habis letih timbullah gembira melihat keindahan alam sekeliling gunung itu. Mereka meringgit lebok, bertembang cara pasemah, terlihat ke arah barat, sayup-sayup mata memandang terbujur tepian langit menghijau biru yang sangat luas. Kalau sungai alangkah luasnya, kalau permadani diwe ngape bergerak-gerak, puteh melintang, puteh membujur, luk mencak di tengah laman, maklumlah mereka itu belum pernah melihat lautan yang begitu luas, cuma mereka biasa menemui Sungai Lematang. Ombak di laut disangka mereka seperti pencak di tengah halaman rumah. Segala rombongan mereka itu memang belum mengenal rupa dan apa laut itu, mereka melihat dari atas gunung lautan yang luas itu tidak lain salah satu dataran yang tidak ditumbuhi rumput dan kayu. Dengan permusyawarahan mereka pada hari-hari yang lampau akan mencari suatu dataran yang luas maka tertujulah segala hasrat dalam hati mereka akan menjalani mencari lautan yang disangka mereka dataran yang luas tadi. Setelah beberapa hari beberapa malam rombongan Remindang Sakti tinggal di atas gunung yang tinggi itu sedangkan mereka belum sampai ke tahap penghabisan dalam menjalankan cita-citanya maka berjalanlah pula rombongan mereka menuruni gunung menuju arah ke selatan. Dikaki gunung itu mereka bertemu dengan air terjun dari gunung yang mereka turuni. Dan mereka turutlah perjalanan air itu. Bertambah lama aliran air itu bertambah deras dan besar, dengan berpedoman kepada sungai yang mereka turut itu perjalanan mereka bertambah-tambah jauh. Kadang-kadang mereka menyimpang dari sungai itu tadi masuk rimba keluar rimba turun luang mendaki pematang maksud mau mencari dataran yang bagus tempat istirahat ataupun membikin dusun yang teguh dikira tidak dapat dimasuki oleh musuh. Dengan tidak puas-puasnya mereka berjalan turun bukit mendaki gunung sampai lagi mereka ke sungai yang menjadi pedoman tadi, sedangkan hari sudah petang mereka mendarat dan mendaki tebing yang sangat curam. Berjejak dan bergantung dengan akar-akar kayu akhirnya sampai ke puncak tebing itu. Bertemulah mereka dengan suatu dataran yang agak lebar dikelilingi oleh tebing-tebing yang sangat curam pula. Tergeraklah dalam hati mereka itu disinilah bagus untuk menetap lebih dahulu. Karena hari sudah petang, bersegeralah semua laki-laki mencari pekayu dan atap dari daun-daun puar hingga selesai mereka dirikan. Di waktu laki-laki bersegera membuat pondok perempuan tidak pula mau ketinggalan, bersegera pula memasak nasi dan lauk kadar yang ada. Sesudah mereka membikin pondok segala perempuan telah siap pula memasak makanan yang akan disantap, oleh karena hari sudah hampir malam mereka bersegeralah pula makan sebab memikirkan sedang kehabisan damar. Sesudah makan tibalah pula gelap malam, sedangkan sekeliling tempat mereka itu lagi dikelilingi oleh rimba-rimba besar karena belum ada kesempatan untuk menebasnya. Setelah hari siang maka bekerjalah laki-laki perempuan, laki-laki mengerjakan yang berat-berat seperti membesari pondok-pondok dan ada yang menebas dan menebang kayu, begitu juga yang perempuan merumput tepian pondok-pondok dan membersihkannya, memasak nasi dll. Hajat mereka tempat yang mereka bersihkan itu adalah untuk menetap dalam jangka beberapa lamanya setidaknya satu kali pembikinan ladang untuk persiapan tahun di muka. Dinamai mereka dusunnya itu DUSUN GENTING, sebab terletak di atas sebuah sungai yang sangat genting, kegentingan sungai itu di kiri kanannya tebing yang sangat curam. Di tengah-tengah dusun mereka itu ditugali dengan padi ladang, jagung, ketela dsb. Sebelum diketahui oleh musuh-musuh atau penjahat Dusun Genting adalah aman dan tenteram. Remindang Sakti adalah seorang pemimpin yang keramat, beliau mengetahui apa-apa yang akan terjadi yang akan datang, dan tidak pula lupa apa yang sudah kejadian, biar bekas-bekasnya sekalipun. Kita sama-sama mengetahui maklumlah zaman dahulu kala pemimpin itu ialah seorang yang sakti dan gerot yang luar biasa kalau tidak ada kegerotan dan kesaktian maka tidak dapat diturut sebagai seorang pemimpin. Sampai pada waktunya tiba musim panen dengan berkah Yang Maha Kuasa hasil ladang dan tanam-tanaman boleh dikatakan menuruti sebagai yang dicita-citakan, sekiranya berladang di tahun di muka, dapat dicapai hasil yang tahun ini untuk panen yang akan datang. Sesudah menuai hasil-hasil ladang tahun ini perempuan-perempuan bersiap pula sekiranya akan meneruskan perjalanan tidak begitu sukar lagi bersia-siap. Pada suatu hari denagn tiba-tiba Remindang Sakti memanggil segala rombongan laki-laki dan perempuan supaya berkumpul sebab ada sesuatu pembicaraan yang penting.

Remindang Sakti mengabarkan kepada rombongannya: “Dusun Genting, bahwa dusun kita ini akan didatangi musuh dengan tidak berapa lama lagi, musuh sekarang sedang bersiap-siap akan berangkat, maka kamu sekalian bersiap-siap pula akan menanti musuh. Musuh kira-kira tujuh hari lagi akan sampai ke tempat ini. Mereka itu berpaham apakah dusun kita ini kita tinggalkan sebelum musuh sampai ataukah kita menantikan dahulu musuh itu tiba.”
Menjawab seorang hulubalang Remindang Sakti bernama Kepingus : “kalau kita tinggalkan sebelum musuh sampai tak dapat tidak kita dituduh oleh musuh kita penakut tentu kita dicarinya sampai dapat, melainkan kita tunggu sampai musuh sampai.”

Segala hulubalang dan orang-orang gerot menyetujui atas usulan Kepingus, terkecuali perempuan-perempuan. Akan tetapi mau tidak mau segala perempuan mesti turut apa yang disarankan oleh laki-laki. Pada suatu malam hari sedang hujan rintik-rintik kira-kira tengah malam Remindang Sakti bangun dari tidurnya sambil beliau membangunkan semua laki-laki supaya siap musuh telah hampir. Maka mereka hulubalang-hulubalang keluar dari dusun orang gerot-gerot menunggu arah ke terdengarlah pekik musuh dari luar dusun, mengatakan siapa lawan. Tetapi dengan kesaktian dan kegerotan yang luar biasa dari para hulubalang Remindang Sakti maka serangan dari segala musuh yang menyerang Dusun Genting tersebut dapat dipatahkan dan dikalahkan. Siapa yang melawan maka dia mati siapa yang tertangkap maka ia akan ditawan tetapi tetap dijaga dengan baik agar ia tidak melawan lagi. Waktu ke waktu serangan terus terjadi dan selalu juga dapat dipatahkan, musuh selalu melarikan diri. Akhirnya setelah sekian lama tinggal di Dusun Genting tersebut maka anak-anak Dusun dan terlebih kaum perempuan merasa tidak tahan karena tiap sebentar dusun itu diserang musuh. Maka berkatalah Remindang Sakti kepada para hulubalang beliau bahwa kita belum sampai kepada yang kita cari maka kita akan terus melakukan perjalanan ke arah yang semula kita cita-citakan itu. Maka semua orang di dusun itu pun menuruti perintah dari Remindang Sakti. Bersiap-siaplah mereka menunggu komando dari Remindang Sakti untuk berangkat. Dan pada saat tiba waktunya maka datanglah perintah dari Remindang Sakti untuk berangkat. Maka berangkatlah rombongan Remindang Sakti masuk rimba keluar rimba menuruni bukit mendaki pematang menurut sebagai mana yang dicita-citakan. Dimana petang disanalah mereka bermalam demi untuk cita-cita yang mereka impikan. Dan sampailah mereka akhirnya diatas sebuah bukit lalu beristirahatlah mereka disana untuk melepas letih perjalanan yang sangat melelahkan itu. Lalu terlihatlah oleh mereka pemandangan yang sangat indah dari puncaknya yaitu arak-arakan awan di atas sebuah gunung ,bagaikan asap kapal yang berangkat meninggalkan pelabuhan,serta pula barisan bukit bukit yang menghijau biru bagaikan tangga turun dari atas gunung; aduh teringat tanah tumpah darah dibalik bukit,nampak pula bentuk kabut sebagai gambaran tangan menyuruh kembali,teringatlah pula ratap tangis famili diwaktu akan berangkat. Melihat pula arah kebarat ,nampak pula dataran yang luas bagaikan permadani baru terbentang, bersambung dengan lautan yang laus menghijau berbintik putih, sayup-sayup mata memandang rasa disana tepian langit. Tampak pula putih berkelip-kelipan rupanya sebagai berkejar-kejaran kiranya guyung memecah jauh. Memecahlah ombak tengah segara, bagaikan sapu tangan melambai-lambai menyuruh datang. Teringat badan merantau duduk bertekun memandang jauh, sambil meringit-ringit lebok, betembang cara Pasemah, tidak teringat hari ndak malam, jatuhlah air mate setitik dipangkuan tidak terasa, tampak pula air terjun dari bukit menjadi sungai, terlihat dari jauh bagaikan kawan mengajak turut aku. Menghilir lurus bagaikan menunjuk disanalah tempatmu. Dengan pemandangan yang permai itu terikat hati sanubari mereka akan menetap sementara waktu di atas bukit itu. Mereka bekerja dari hari kehari membikin pondok-pondok untuk tempat berteduh bila hujan dan panas. Habis pembikinan pondok maka mereka menebas dan menebang rimba di bukit itu untuk menanam jagung dsb untuk penambah makanan mereka selama kurang lebih “setahun jagung” mereka akan menetap disana. Semenjak itulah bukit itu dinamai Bukit Jagung. Setelah habis mereka memetik hasil tanam-tanaman mereka disana, berangkatlah mereka menuju arah ke selatan sampai di suatu dataran padang alang-alang dibawah sebatang kayu yang rindang. Disanalah mereka membikin pondok-pondok pula sebagai tempat bermalam sebab belum tentu kemana mereka ini akan menetap. Setelah beberapa lamanya mereka berdiam di pondok-pondok di tengah padang itu, pada suatu malam hari sedang dinihari atau paghak siang , mereka sedang duduk berkumpul dihadapan pondok-pondok mereka itu, terdengarlah sayup-sayup bunyi kokok ayam, bunyinya dari sebelah selatan. Terkejutlah mereka.
Ujar Remindang Sakti : “ cobalah kamu turut suara kokok ayam itu tadi.”
Maka dengan perintah Remindang Sakti berangkatlah mereka menurut perintahnya. Sedangkan yang pergi itu ialah : Poyang Lembu Api, Poyang Kepingus, Poyang Keriau Kintar, Poyang Pejayau. Keempat mereka sambil meneliti yang diperintahkan oleh Remindang Sakti, mereka telah membawa persenjataan yang cukup untuk bertempur. Amanat dari Remindang Sakti sekiranya ada dusun dan banyak orangnya supaya kembali segera. Akan tetapi karena setelah mereka melihat perkembangan dalam dusun itu tidak begitu hebat maka mereka melanggar amanat dari Remindang Sakti tersebut. Keempat Poyang itu terus masuk menggempur isi dusun itu selama satu hari berkecamuk dengan sengitnya. Dari pihak anak dusun beberapa ada yang gugur, banyak yang berlari, ada yang diikat dan yang perempuan kebanyakan berkurung di dalam rumahnya masing-masing. Akhirnya pertempuran itu selesai dalam waktu satu hari. Yang melawan gugur, yang penakut berlari, yang mana dapat ditangkap diikat dan ditawan. Setelah berhenti pertempuran itu tibalah suruhan dari Remindang Sakti untuk melihat empat Poyang itu tadi, apa sebab mereka belum pulang. Utusan yang diutus ialah Poyang Mangkudumo dan Poyang Pusaran. Setelah keduanya sampai di dusun itu berkebetulan salah satu dari empat poyang yang pertama diutus itu baru akan melapor kepada Remindang Sakti bahwa dusun yang ada kokok ayam tadi malam telah digempur dan telah selesai dan katakan supaya semua rombongan bawalah kesini atau ke dusun ini karena di dusun ini sudah aman. Maka kembalilah Poyang Pusaran serta Poyang Mangkudumo mengabarkan menurut yang diamanatkan oleh Kepingus tadi. Sesudah diterima utusan oleh Remindang Sakti maka bersiaplah rombongan akan berangkat ke dusun yang baru didapat itu. Maka berangkatlah rombongan Remindang Sakti ke dusun yang baru didapat itu tadi. Sementara rombongan Remindang Sakti belum tiba beberapa rumah telah dikosongkan oleh keempat hulubalang itu yaitu menyiapkan untuk menempatkan rombongan Remindang Sakti agar setelah sampai maka masing-masing telah mendapatkan tempatnya. Remindang Sakti memerintahkan kepada semua laki-laki supaya orang-orang yang mati itu dipalut dengan daun-daun pisang kering yang banyak diatas lubuk sungai deras itu. Mendengar perintah beliau maka bekerjalah mereka sesuai dengan yang diperintahkan oleh Remindang Sakti. Semua mayat-mayat itu dikubur secara baik dan dipalut dengan daun pisang kering. Maka menetaplah rombongan Remindang Sakti beberapa lamanya di dusun itu. Dan dusun itu dinamai olehnya ialah Dusun Lubuk Kerisiak. Arkian menetaplah rombongan Remindang Sakti beberapa lamanya, tawanan-tawanan kemarin mulalilah secara bijaksana dipersatukan dengan rombongan Remindang Sakti, tawanan yang perempuan itu dikawinkan dengan laki-laki dari rombongan Remindang Sakti. Begitu juga yang laki-laki dikawinkan dengan wanita dari rombongan Remindang Sakti. Terkecuali yang keluarganya masih lengkap, mereka akan dibujuk hingga mereka merasa simpati dan gembira dalam pergaulannya sehari-hari. Keadaan Dusun Lubuak Kerisiak adalah aman dan tentram, oleh karena rombongan Remindang Sakti telah bertambah, maka berladang pada tahun ini harus mencari tanah yang luas. Maka dengan mencari-cari di rimba keliling dusun tempat mereka itu, kedapatnlah sebidang tanah yang luas terletak kira-kira di bawah dusun Lubuk Kerisiak, di seberang sungai deras yaitu dataran tanjungan yang penuh dengan batang puar yang akhirnya mereka namakan hutan Tanjung Puar. Hutan itu rupanya bekas dusun yang terletak pada sebuah cugung atau tanah tinggi yang dilingkungi oleh tanjungan puar itu. Rupanya dusun itu baru saja ditinggalkan olem manusia penunggunya. Rupanya ditinggalkan oleh karena pertempuran di dusun Lubuk Kerisiak yang baru saja dikalahkan oleh rombongan Kepingus. Karena tanjungan puar itu tanahnya luas maka berladanglah mereka disana. Sesudah panen tahun itu , segala hasilnya diangkut atau dibawa ke dusun Lubuk Kerisiak. Setelah sekian lamanya anak-anak dusun dalam keadaan tenang di dusun Lubuk Kerisiak maka Remindang Sakti mengadakan lagi musyawarah dengan semua rombongannya dalam musyawarah itu beliau mengatur serta memberikan amanat kepada orang-orang yang akan ditinggalkan.

Remindang Sakti mengatakan : “segala adik sanakku, aku bermaksud akan memperluas daerah kita. Karena maksud kita merantau, telah berbulan-bulan dalam perjalanan masuk rimba keluar rimba, menuruni lurah mendaki pematang, turun bukit mendaki gunung, bertahun-tahun kita menetap sementara waktu di tengah-tengah rimba yang luas hingga sekarang kita sampai disini, telah beberapa musim kita meninggalkan tanah tumpah darah dan adik sanak kaum kerabat di dusun Mertandi, namun maksud dan cita-cita akan kita teruskan. Kepada adik sanak yang akan turut sebagai yang saya atur tadi supaya berdandan dan bersiap apa-apa yang akan dibawa karena setelah semua siap maka kita akan terus berangkat mencari muara sungai yang dari bukit tempat kita menetap pada tahun yang sudah. Dan kepada Kintarejo tiga beradik yaitu Mangkudumo dan Janggut beserta pengikutnya dan beberapa tawanan kamu tinggallah menetap di dusun Lubuk Kerisiak ini. Kepada Kintarejo, Mangkudumo dan Janggut kamu semua berasal dari Banten, dan sudah sekian lama kalian menjadi pembantu pembantu ayahku Suku Milung di dusun Mertandi Gumay Talang. Sekarang kamu membantu dan ikut aku pula. Maka kepada kamu bertiga mulai hari ini kalian aku anggap sebagai saudara sepupuku, pelindungku yang gagah berani manantang musuh dari luar dan dalam, aku sangat percaya kepadamu. Maka pada hari ini kami akan berangkat meninggalkan kalian, maka jagalah dusun Lubuk Kerisiak ini baik-baik. Sekiranya ada musuh kamu yang tidak terhadapi oleh kamu, maka cari kami di batang hari atau sungai yang menghilir dari bukit jagung tempo hari, kalau tidak dapat juga kamu mencari kami maka pangganglah kemenyan sebut pantau aku niscaya aku bantu.”

Demikianlah ujar Remindang Sakti dan beliau beserta rombongan berpamitan dengan segala yang tinggal, dan berangkatlah rombongan beliau ke arah barat. Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan akhirnya sampailah mereka di pinggir sungai yang besar, tetapi airnya tidak terlampau deras seperti sungai yang mereka tinggalkan tadi. Sesampainya mereka di pinggir sungai itu rombongan yang laki-laki dengan segera masuk ke dalam hutan untuk mencari pekayu untuk pembuatan pondok untuk bermalam. Kaum perempuan bekerja pula memasak makanan. Sesudah selesai pembuatan pondok maka para perempuan pun meletakkan makanan untuk makan petang, maka makanlah semua rombongan Remindang Sakti. Karena lelahnya mereka pun segera tertidur lelap sampai-sampai merekapun tidur sampai siang esoknya, terkecuali yang perempuan, mereka terbangun diwaktu dinihari karena akan memasak makanan. Pada dini hari itu para wanita ada yang menghidupkan api, ada yang mencari kayu, ada yang pergi ke sungai.dari jauh perempuan perempuan melihat air sungai itu hitam, dan airnya tidak diam serta bunyinya har hur ditengah tengah sungai itu.Oleh karena perempuan perempuan itu ketakutan berlarilah mereka kembali kepondok mengabarkan kepada rombongannya yang laki-laki bahwa air sungai itu menjadi hitam dan tidak bersenang diam. Berlarilah pula semua laki-laki itu akan melihat apakah sebabnya sungai itu sampai tidak bening. Setelah mereka perhatikan bahwa hitam itu adalah anak-anak ikan yang sangat banyak hingga memenuhi permukaan air sungai. Dan airnya tidak dapat hening itu adalah karena ikan-ikan yang besar sedang memakani anak-anak ikan itulah. Dengan itu mulailah turun ke air semua rombongan Remindang Sakti yang laki-laki dan perempuan dengan gembiranya melihat ikan yang sangat banyak itu. Begitu gembiranya sehingga mereka lupa akan pekerjaan mereka di pondok karena sembari mandi dan menangkap ikan, begitu pula anak-anak mereka riuh berenang di sungai tu kesana kemari sambil meringit-ringit lebok. Setelah semua ikan itu hening atau hilang maka mendaratlah mereka dan mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Maka lubuk tempat dimana mereka menemukan ikan yang sangat banyak itu mereka namakan Lubuk Buanakan atau sekarang namanya Banakan. Rombongan itu selalu setiap hari mencari tempat-tempat yang bagus untuk dibikin dusun, maka terdapatlah oleh mereka itu didarat atau diatas lubuk Buanakan itu suatau dataran yang bagus untuk dibikin dusun. Maka merekapun mulai membuat pondok disana hingga akhirnya terjadilah satu dusun yang indah dan bagus. Maka dinamailah dusun itu dusun Buanakan atau Banakan. Setelah beberapa tahun lamanya rombongan Remindang Sakti tinggal disana, pada suatu hari pemuda-pemuda mandi dengan berkejar-kejaran, ada yang berenang ke hulu ada pula yang ke hilir. Ada pula yang berenang sejauh mungkin terus menerus ke hilir sambil mencari-cari ikan. Sampai disuatu tempat terdengar pula oleh pemuda-pemuda itu ramai bunyi anakanak serta terdengar pula bunyi ayam berkokok. Akhirnya para pemuda itu mendaki tebing dan menyelidiki asal suara itu. Lalu terlihatlah oleh mereka bahwa memeang ada dusun disana dan ada beberapa rumah-rumah kecil di dalamnya. Para pemuda itupun langsung balik ke dusun Banakan mengabarkan kepada orang tuanya tentang keberadaan dusun yang mereka temukan tadi. Dusun tersebut sangat teguh, berpagarkan aur duri dan siring yang sangat dalam, dan dusun itu sulit untuk memasukinya.Pintu gerbangnya menghadap jalan turun keair atau kesungai.Orang turun mandi tidak putus putusnya lelaki dan perempuan. Esok harinya Ramau Ratu Remindang Sakti mengumpulkan hulubalang-hulubalang dan orang yang gerot-gerot di dusun Banakan , memberitahukan supaya atas pertemuan pemuda-pemudanya bahwa ada satu dusun yang ramai di hilir sungai ini supaya digempur, dan kepada saudara-saudara yang pergi menggempur bersiap-siaplah keris dan kujur dimasami, selek cakak mahirkan dulu, dan lain-lain yang dianggap perlu. Setelah hulubalang dan orang-orang yang gerot siap dengan alat-alat mereka untuk menggempur maka mereka berpamitan kepada Ramau Ratu Remindang Sakti bahwa mereka akan berangkat berperang. Sebagai kepala atau pemimpin rombongan yang akan menggempur itu dipilihlah Kepingus. Maka berangkatlah rombongan Kepingus menghilir sungai Buanakan, dan mereka tidak menurut sungai, tetapi terus berjalan jalan daratan supaya tidak diketahui oleh orang dusun yang akan digempur itu. Akhirnya sampailah mereka di tepi dusun yang akan digempur itu. Bertepatan pula dengan zamannya, raja dari dusun yang akan digempur itu sudah siap menantikan kedatangan musuh menurut perintah rajanya. Mereka memang sudah lama menantikan kedatangan musuh dengan selalu berjaga-jaga dengan persenjataan yang lengkap. Akhirnya dalam seketika rombongan Kepingus masuk ke dalam dusun itu dan terus menggempur. Terjadilah pertempuran sengit, maklumlah sama-sama gerotnya. Pertempuran ini pun terjadi selama satu hari satu malam. Orang dari dusun yang digempur itu banyak yang gugur ada juga yang berlari, ada yang ditangkap ada juga perempuan dan anak-anak yang berkurung di dalam rumah. Yang hidup semua menjadi tawanan. Sedangkan rombongan Kepingus sebanyak tujuh orang tidak ada satupun yang tewas. Setelah pertempuran selesai maka sebanyak tiga orang perwakilan dari rombongan Kepingus pergi ke dusun Buanakan untuk melapor kepada Remindang Sakti. Setelah tiba para utusan itu maka mereka pun mengabarkan kepada Remindang Sakti tentang apa yang terjadi dan menganai baik buruknya dusun itu. Remindang Sakti sangat senang sekali mendengar kabar baik itu, lalu beliau memerintahkan salah satu dari mereka untuk mengabarkan kepada Kepingus supaya bersiaplah karena rombongan akan pindah ke dusun yang baru dimenangkan itu. Lalu Kepingus pun menyiapkan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Remindang Sakti. Lalu Kepinguspun menyampaikan pesan bahwa segala sesuatunya telah disiapkan menurut yang diperintahkan. Maka berangkatlah rombongan Remindang Sakti menuju dusun yang baru itu. Sesampainya disana maka Remindang Sakti pun mengatur segala sesuatunya hingga semuanya mendapatkan tempat masing-masing. Oleh karena rakyat Remindang Sakti telah menjadi banyak maka terpaksalah membuat pondok-pondok yang baru ditengah dusun itu. Maka ramailah dusun itu yang membuat akhirnya harus juga membuat pondok di luar dusun. Dusun itu pun dipagar pula sebagaimana biasanya agar jangan dapat dimasuki musuh. Berdiamlah rombongan Remindang Sakti untuk beberapa lamanya. Oleh karena dusun itu menjadi pusat untuk mencari tempat yang bagus maka dinamailah dusun itu dengan nama Dusun Pusaran. Dan oleh karena dalam perjalanan Remindang Sakti sepanjang sungai Buanakan itu banyak menemui batang Pepinau yang menjalar dari seberang ke seberang maka beliau namailah sungai itu dengan nama Sungai Pepinau, untuk menukar nama Sungai Buanakan. Setelah mereka duduk di dusun Pusaran maka di setiap tahun mereka terus menggempur orang-orang suku Runjang (suku Rejang) di seluruh atau sepanjang sungai Pepinau. Dengan gagah dan perkasanya hulubalang-hulubalang beliau bertempur dan tidak ada satupun yang tewas. Dimana dusun-dusun orang Runjang dikalahkan yang mana melawan dibunuh yang menyerah ditawan. Begitulah caranya mereka dengan segera berkembang biak. Tiap-tiap dusun bertambah ramai dan daerah pimpinan beliau bertambah luas. Mereka telah mengusir orang-orang Runjang di sepanjang sungai Pepinau selama kurang lebih puluhan tahun. Dari dusun Pusaran itulah sebagai pusat pemerintahannya. Disepanjang sungai Pepinau dimana dusun yang teguh dan bagus yang sangat sulit dimasuki maka beliau atur / letakkan hulubalang dan pengikutnya sesuai menurut kelas kesaktian dan kegerotannya seperti ; di dusun Lubuk Asam (Karang Cayo skrg), dusun Pejayau (Pagar Gading skrg), dusun Padang Pumpung (Pagar Agung skrg) dan Dusun Pelajaran. Terkecuali Kepingus ia harus tetap dekat dengan beliau karena Kepinguslah hulubalang beliau yang paling utama kegerotan dan budi pekertinya dan sangat setia kepada beliau. Pada suatu hari Remindang Sakti sedang duduk berceramah dihalaman yang luas dan bersih di tengah-tengah Dusun Pusaranm anak-anak dusun pun sedang berkumpul ada yang sedang duduk di anggung-anggung (sejenis bangku yang terbuat dari bambu), ada yang membentang tikar, anak-anak berkejar-kejaran, bunyi-bunyian meringit lebok, bertembang, maka dengan tiba-tiba datanglah Kintarejo serta rombongannya diluar dusun di dekat lawang masuk atau pintu gerbang, sambil bertembang dengan suara agak keras tanda mau masuk menandakan bukannya musuh yang ada di luar dusun. Terdengarlah oleh Remindang Sakti suara tembang dari luar, maka Remindang Sakti pun memerintahkan Kepingus untuk membuka lawang atau pintu gerbang tersebut. Lalu Kepingus pun berangkat untuk membuka pintu gerbang tersebut. Maka masuklah Kintarejo bersama rombongan, terlihatlah antara keduanya yaitu Kepingus dan Kintarejo berpelukan dan berciuman serta bertangisan disebabkan buruk sangka selama bercerai tidak tentu mati atau hidup masing-masing. Karena telah berpuluh tahun bercerai dari Lubuk Kerisiak. Begitu pula Remindang Sakti ia pun berpelukan dan bertangisan tanda rindu yang tak berputus.

Remindang Sakti berkata ; “Aku tekinak denga ni balek ribang gaje, ase dlu ase sebitu, mbak ase nining balik idop”.

Beginilah cara pertemuan mereka dengan teman karab yang sudah lama tidak bertemu. Seterusnya Kintarejo bersama rombongan dibawa ke balai pertemuan tempat kenduri tempat mengambil fatwa dari dewa dan duata. Telah beberapa hari dan beberapa malam Kintarejo beserta rombongan ditahan oleh Remindang Sakti di dusun Pusaran untuk melepaskan rindu, maka Kintarejo pun mengatakan akan maksud dan tujuan kedatangannya untuk menemui Remindang Sakti.

Ujar Kintarejo ; ”kedatangan kami menghadap Ramau Ratu tidak lain ialah mengabarkan bahwa sepanjang sungai deras tadi telah kami jalani dan selidiki bahwa di dalam masing-masing dusun kebanyakan rajanya gerot-gerot serta dusun-dusunnya sangat teguh, belum ada satupun yang kami gempur, tetapi jalan masuk dan jalan keluar telah kami ketahui. Oleh sebab inilah maka kami segera memberitahu Ramau Ratu, kami minta petuah . kalau atas perintah Ramau Ratu gempur maka akan kami jalankan, seolah kami minta bantuan dengan jalan halus dari Ramau Ratu. Yang kedua yaitu permintaan kami supaya Kepingus kembali bersama kami ke Lubuk Kerisiak untuk membantu kami.”
Maka Ramau Ratu menjawab : “Atas permintaan Kintarejo tidak aku tolak dan aku akan setujui serta akan aku sokong dengan jalan halus untuk mengetahui Jaye-talu, tetapi aku juga mendatangkan permintaan dengan Kintarejo dan rombongan bahwa kamu sekalian jangan dulu pulang ke Lubuk Kerisiak, sebab saya bermaksud akan pindah untuk menunggu dusun Kutau Johor suatu dusun yang indah di muara sungai Pepinau di tepi laut lepas. Maka Kintarejo dan rombongan antar kami terlebih dahulu .”

menjawablah Kintarejo bahwa ia akan selalu memenuhi perintah dari Ramau Ratu Remindang Sakti sedangkan mereka kembali ke Lubuk Kerisiak akan menunggu perintah dari Ramau Ratu Remindang Sakti. Maka ramau ratu Remindang Sakti memerintahkan supaya rombongan Yang akan ikut beliau agar bersiap-siap akan apa yang akan dibawa karena kita akan segera berangkat. Setelah semuanya siap maka berangkatlah rombongan Remindang Sakti menghilir atau menuruti sungai Pepinau hingga sampai ke dusun yang dimaksudkan atau Dusun Kutau Johor. Dusun Kutau Johor terletak di muara laut sungai Pepinau, di atas bukit kecil di tepi lautan Hindia. Dusun Kutau Johor adalah dusun yang indah permai sesuai untuk menempatkan dan bersemayam seorang Ramau Ratu atau pemimpin guna memikirkan segala sesuatu yang akan dipimpinkannya. Dusun Kutau Johor adalah bekas dusun pemimpin orang Runjang yang diusir oleh para hulubalang Ramau Ratu Remindang Sakti. Setelah beberapa hari Ramau Ratu Remindang Sakti menetap di dusun Kutau Johor maka beliaupun mengumpulkan semua anak-anak dusun dan orang yang gerot-gerot yang mengantarkan beliau mengadakan musyawarah atau buijau. Ramau Ratu Remindang Sakti mengatur segala hulubalangnya yang telah diberi kekuasaan memimpin dalam dusunnya masing-masing.

Ujar Ramau Ratu Remindang Sakti : “Segala hulubalang-hulubalangku , kamu semua telah kuberi kekuasaan sendiri-sendiri untuk memimpin kawan-kawanmu dan beberapa banyak tawanan baik yang laki-laki maupun perempuan. Maka aku tetaplah di Dusun Kutau Johor ini. Barang siapa kamu sekalian sesak dalam segala hal baik menghadapi bala maupun bencana, maka sebut pantau nama aku dalam asap kemenyan. Serta aku perintahkan kepada kalian bahwa pertempuran pada tahun ini kamu hentikan dahulu. Dan bila lepas dari tahun ini kamu mau menggempur supaya kamu mufakat dahulu dan beritahu aku , sekiranya kamu belum ada kesempatan datang kepadaku , sebut pantau aku dan apa-apa maksud kamu seramkan di asap kemenyan. Ku amanatkan kepada Kintarejo janganlah sekali-kali melanggar amanatku ini, kalau kamu langgar niscayalah kamu akan menyesal. Tentang permintaan Kintarejo supaya Kepingus pulang ke dusun Lubuk Kerisiak, aku rela supaya Kepingus bantulah Kintarejo akan menghadapi segala sesuatu dan sepanjang sungai deras bersama-samalah menguasainya. Dimana saja kamu sesak akakn aku bantu tetapi ingatlah sungguhpun dua batang hari seumpama satu.”

Selesai musyawarah semua orang-orang yang mengantar Ramau Ratu Remindang Sakti pulanglah ke dusunnya masing-masing. Kintarejo beserta rombongan dan Kepingus pulang ke Lubuk Kerisiak. Oleh karena amanat Ramau Ratu Remindang Sakti dalam setahun ini supaya berhenti dulu bertempur, berhentilah mereka mengadakan penggempuran selama setahun. Setelah habis tahun itu rombongan Kepingus dan Kintarejo mulai lagi bekerja mengusahakan supaya bertambah banyak mendapat tawanan serta daerah bertambah luas. Sedangkan mereka itu telah mendapat kekuasaan sendiri yang dapat oleh usahanya. Yang mana orang-orang Runjang yang sangat sulit untuk mengusirnya, maka mereka akan datang kepada Ramau Ratu Remindang Sakti untuk meminta bantuan. Begitulah seterusnya mereka mengusahakan supaya sepanjang Sungai Deras sampai ke lautan dapat dikuasai.

Catatan 1

Sesuai dengan silsilah yang telah saya tulis di Catatan ini, maka saya akan menulis sejarah ini sesuai dengan urutannya dari Ratu Gumay. Kami semua disini bermarga Anak Gumay karena kami adalah keturunan dari Ratu Gumay.
Ratu Gumay, atau terkadang disebut juga Diwe Gumay, menurut hikayat beliau bertarak dalam buah linggur dan setelah selesai bertarak beliau seperti dilahirkan kembali seolah-olah lahir dari dalam buah linggur. Hal inilah yang membuat beliau dianggap lahir tanpa orang tua sehingga disebut sebagai Dewa Gumay (Diwe Gumay).

Sebagai bahan untuk meyakinkan anda para pembaca maka saya akan menuliskan silsilah keluargaku terlebih dahulu :
catatan ; anak dari (-)
Roby Julianto - Nurmi Liani - NjatauWijah (adik dari Merah Isma'oen) - So'a - Pangeran Alirudin (Raja Mahkota Alam) - Pangeran Amir (Raja Alam) - Raja Prabu Anum - The Patih Cap Cinau - The Patih Serkidul - The Patih Batau - Ramau Ratu Neradin - Ramau Ratu Gindaudin - Ramau Ratu Bagin - Ramau Ratu Minak Kertau Bumi - Puteri Rambut Mas (Isteri dari Makhudum Sakti / Aminullah) - Ramau Ratu Agung Tua - Ramau Ratu Remindang Sakti - R. Simbang Gumay (Pangeran Suku Milung) - R. Raje Mude - R. Berjunjang Sakti - R. Semenggali - R. Semenggale - R. Ganjaran - R. Jemenang Sakti - R. Iskandar Alam - RATU GUMAY


Di sini ( kota Manna ) ada banyak buku atau cerita sejarah yang beredar. Keluarga kami sendiri memegang salah satunya. Tetapi sangat sulit untuk membuktikan kebenarannya karena keterbatasan sumber sejarah dan keegoisan masing-masing keluarga yang memegang sejarah tersebut. Saya mengatakan begitu karena pada kenyataannya setiap klan atau keluarga yang memegang buku sejarah ataupun hanya sekedar cerita turun temurun selalu menuliskan atau menceritakan cerita yang baik tentang leluhurnya. sehingga karena hal itu ada banyak sejarah yang hilang hanya karena ingin menutup-nutupi kesalahan dari leluhurnya.
Mereka aku anggap tidak sadar betapa pentingnya catatan sejarah itu turun secara utuh, karena bila tidak maka akan ada mata rantai yang hilang yang nantinya akan membuat sejarah itu menjadi rancu. Seperti yang saya temui disini di tanah leluhurku ini ( Manna ), semua sejarah yang ada selalu menuliskan / menceritakan tentang kegagahan leluhurnya seakan leluhurnya adalah manusia yang suci dan sempurna tanpa cacat. sehingga sejarah tersebut menjadi basi dan kabur.
Di Kabupaten Bengkulu Selatan ini belum ada sejarah yang baku, karena belum pernah diadakan penelitian yang resmi dari pihak manapun. Sehingga kami warga Bengkulu Selatan ini akan terus terlahir tanpa identitas yang jelas dan resmi tentang asal-usul kami. Saya sendiri merasa aneh mengapa Pemerintah Daerah kami sangat abai dengan hal-hal seperti ini padahal tanpa sejarah mereka takkan pernah ada. Dan yang lebih sedih lagi mereka (para calon Bupati) hanya menggunakan Tambo (silsilah) yaitu pada saat PILKADA saja, karena mereka berusaha menggaet dukungan sebanyak-banyaknya.
oleh karena inilah saya mencoba menulis tentang ini agar paling tidak ada yang membaca dan mereka akan tahu tentang identitas kami dari berbagai sudut pandang (sumber sejarah). Juga harapan saya ada unsur PEMDA BENGKULU SELATAN yang tergugah untuk mengangkat masalah ini.
walaupun saya merupakan salah satu pemegang sejarah dari daerah Bengkulu Selatan ini saya akan berusaha tetap obyektif dalam menyajikannya.
inilah sekilas alasan saya menulis dan menampilakkan sejarah -sejarah daerah kami ini. Juga mungkin akan berguna untuk para pembaca yang haus akan sejarah Sumatera Selatan Khususnya dan Indonesia secara Umumnya.

""Kutipan dari Blog Donga Wedy""

6 komentar:

  1. Salam hangat dari kami jak dusun lubuak kerisiak...
    Terimau kasiah atas pelajaghannyau..

    BalasHapus
  2. coba ada skema silsillah dan nama2 anak cucu hingga kini agar kita bisa lebih mempererat persaudaraan dan agar tak ter jadi perselisihan antar saudara sendiri

    BalasHapus
  3. coba ada skema silsillah dan nama2 anak cucu hingga kini agar kita bisa lebih mempererat persaudaraan dan agar tak ter jadi perselisihan antar saudara sendiri

    BalasHapus