Jumat, 29 April 2011

RAMAU RATU REMINDANG SAKTI

Pada awalnya rombongan Ramau Ratu Remindang Sakti menembus rimba belantara, turun bukit mandaki gunung, melangkah ruang dengan pematang, pergi merantau berombongan tidak tentu arah tujuan, dimana petang disitu bermalam, beberapa banyak rombongan beliau laki-laki dan perempuan, anak-anak mereka yang masih kecil turt merantau. Sekarang beliau dapat duduk di dusun yang paling indah di Dusun Kutau Johor yang terletak di muara laut Sungai Pepinau di tepi lautan hindia. Apabila memandang ke lautan yang luas itu, terlihat guyung laut seperti bukit, dibawahnya ombak memecah bagaikan saputangan melambai. Terasa lemah tulang seperti mabuk buah kepahyang, lenyaplah duka timbul gembira, tidak teringat aku dimana, berhembus angin sepoi-sepoi, sejuk segar menembus pikiran, jasmani dan rohani yang saling mencumbu, perasaan rasa diayun. Melihat pula arah ke timur dalam menguap embun pagi terlihat menghijau biru. Melihat deretan bukit sebagai tempat lalu, di atas bukit bersusun gunung Dempo menjulang tinggi, berembus kabut diatasnya. Aduhai teringat akan tumpah darah disebaliknya, teringat pula duduk berderet di mandian, tergambar di hati kawan seiya sekata, duhai terasa badan merantau. Demikianlah indahnya dusun Kutau Johor tempat bersemayam Ramau Ratu Remindang Sakti.
Beliau mempunyai tiga orang putra dan seorang putri. Mereka secara berurutan ialah Agung Tua, Biring Keciak alias Riau Ngidap, Pancurmas, Putri Rebia. Ramau Ratu Remindang Sakti tinggal di dusun Kutau Johor dan beliau merasa aman dan tentram, beliau memerintah daerahnya di sepanjang sungai Pepinau dan sungai Deras. Di sekeliling sungai Pepinau dan Sungai Deras masih rimba belantara dan masih banyak yang harus dikerjakan karena di dalam rimba itu masih banyak lagi dusun orang Runjang yang cukup sulit untuk diusir. Tetapi Ramau Ratu Remindang Sakti setelah memeranginya selalu secara bijaksana mempersatukan orang Runjang itu dengan rombongannya, akantetapi bila tidak mau tunduk maka kalau perlu jiwa yang akan dipertaruhkan. Kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras ini kira-kira tahun 1300 masehi. Hulubalang-hulubalang beliau yang mendiami sepanjang Sungai Pepinau dan Sungai Deras bersatu padu menggempur dan mengusir serta menaklukan orang-orang Runjang yang masih ada di rimba sampai habis. Terkecuali di hilir Sungai Deras di tepi pantai lautan Hindia ada satu dusun yang belum dapat dikalahkan. Dusun tersebut sangat teguh. Beberapa kali rombongan Kepingus hendak masuk ke dalam itu tapi tidak dapat. Maka dengan putus asa Kepingus dan Kintarejo serta rombongan menghadaplah kepada Ramau Ratu Remindang Sakti ke dusun Kutau Johor untuk berembuk. Setelah Kepingus dan Kintarejo sampai ke tempat Ramau Ratu Remindang Sakti maka beristirahatlah mereka beberapa hari lamanya. Setelah mereka beristirahat barulah mereka mengabarkan kepada Ramau Ratu Remindang Sakti bahwa mereka telah berulang kali mendatangi dusun itu dan hingga sekarang tidak bisa masuk, oleh karena rajanya sangat sakti.
Setelah beliau menerima laporan kedua hulubalang itu maka Ramau Ratu Remindang Sakti berkata : “ kamu jangan takut jangan penakut, dimana tebingtidak bertauk atau berbalas, dimana cugung tidak berlawan, bukul bertemu dengan beliung, hanya tetapkanlah hari apa kamu akan pergi menggempurnya, aku akan ikut pula membantu dan bawa semua hulubalang disepanjang Sungai Deras.”
Maka pulanglah mereka berdua dan setelah sampai langsunglah mereka berdandan. Setelah cukup persiapan dan ketetapan orang-orang yang akan ikut maka mereka berangkat menghilir masuk rimba keluar rimba masuk padang keluar padang, maka sampailah mereka ke dekat dusun itu. Tidak pula berapa lamanya maka sampailah rombongan Ramau Ratu Remindang Sakti ke tempat rombongan Kepingus dan Kintsrejo berada tadi. Ramau Ratu Remindang Sakti pun langsung memerintahkan untuk mulai menggempur kepada rombongannya.
Ramau Ratu pun berkata : “manakala pertempuran terjadi jangan dimunduri hingga sampai ke tahap penghabisan.”
Sedangkan pertempuran itu diketuai oleh Ramau Ratu Remindang Sakti sendiri, dan beliau yang memecahkan guntingan di lawang atau pintu gerbang yang rapat oleh hulubalang-hulubalang orang Runjang. Bertempurlah mereka dengan sengit selama tujuh hari tujuh malam. Tetapi dengan kecerdasan hulubalang Ramau Ratu Remindang Sakti apabila mereka sudah merasa penat bertempur maka separuh dari mereka bersembunyi di luar dusun untuk melepaskan lelah dan tidur. Dan ada pula yang kembali ke Kutau Johor untuk mengambil makanan dan minuman, apa bila mereka sudah sangat lapar dan haus seorang seorang keluar makan dan minum. Begitulah cara dan tak tik selama pertempuran terjadi, terkecuali Ramau Ratu Remindang Sakti yang rupanya tidak merasa haus dan lapar. Beliau dalam pertempuran yang sengit itu terkadang kelihatan kadang-kadang tak kelihatan, begitulah cara beliau bertempur. Raja orang Runjang yang sakti itu akhirnya dapat beliau gugurkan. Lama kelamaan pihak musuh kalah. Ada yang mati ada yang gugur dan ada yang berlari, yang tinggal ditawan. Isi dusun itu sangat ramai, rupanya dusun itu merupakan tempat pelarian orang-orang Runjang yang telah dikalahkan selama ini. Setelah berhenti peperangan maka mereka banyak mendapatkan tawanan laki-laki dan perempuan. Para tawanan itu lalu dibagikan kepada masing-masing hulubalang untuk dibawa ke dusunnya untuk meramaikan dusunnya. Para tawanan tersebut akan dikawinkan dengan orang asli agar mereka dapat pikiran tenang hingga mereka tidak terasa bahwa ia anak tawanan. Dengan percampuran bahasa Pasemah dengan orang Runjang ini dengan sendirinya bahasa Pasemah berubah, sedangkan orang Runjang tidak boleh membawa bahasanya, dia musti turut bahasa Pasemah, tentu bagi keturunannya bahasa Pasemah telah berobah lagak lagunya sehingga secara tidak langsung menjadi bahasa asli. Maka dengan adanya bahasa Pasemah dimasuki bahasa lain dengan lagak lagu dan logat yang berbeda maka terjadilah bahasa baru. Di dusun Kutau Johor tentu pembagian tawanannya lebih banyak di banding dusun lain. Maka dengan tambahan dari tawanan itu bertambah ramailah dusun itu dan bertambah luas pula lah daerah kerajaan pemerintahan Ramau Ratu Remindang Sakti di Sungai Pepinau. Dalam Kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras pada tiap dusun beliau letakkan wakil-wakilnya yang diberi nama Keriau. Kata Keriau diambil dari pengertian dari kata penyelesaian dari keributan, ialah yang akan mengepalai satu dusun. Ialah yang mewakili Ramau Ratu Remindang Sakti dalam segala urusan di dusun itu. Setelah semua dusun telah ditetapkan Keriaunya masing-masing maka mulailah teratur dan di tiap-tiap dusun diadakan pula Mudim. Mudim ialah sebutan untuk imam agama dewa. Seorang Mudim bisa juga mengobati anak-anak dusun bila ada yang sakit. Obatnya berasal dari tumbuh-tumbuhan atau jampi-jampi dan mantera-mantera. Menurut perasaan orang dusun Mudim ialah orang yang sangat dekat dengan Dewa-dewa. Kata-katanya oleh anak dusun dianggap benar. Mudim juga lah penyampai doa-doa mereka kepada para dewa, misalnya minta rizki, minta kesehatan dan lain-lainnya sebagai yang dinamakan permintaan kepada orang halus, atau orang kelam. Dewa-dewa ini bermacam-macam pula kewajibannya. Misalnya Dewa Nating Nyawe ialah mematikan dan menghidupkan manusia. Dewa Nating Rezeki yaitu dewa yang memberi rezeki seperti padi dll makanan yang menghidupkan manusia di alam ini. Dewa menurunkan bala bencana dan banyak lagi cabang-cabangnya. Orang yang beragama dewa ini meyakini bahwa yang menguasai dunia ini adalah dewa-dewa. Sedangkan Mudim ialah dibawah kekuasaan Keriau. Sedangkan Keriau ialah memegang kekuasaan pemerintahan dibawah Ramau Ratu. Pada zaman itu Keriau memberikan peraturan-peraturan ataupun pemerintahan harus berembuk dengan Mudim, karena Mudim itu ialah ketua Jungku atau disebut suku yaitu sebagai ketua masyarakat di dusun itu. Begitu juga Ramau Ratu, apabila ada suatu peraturan yang akan dibuat maka wajib dirembuk dengan para hulubalang, keriau, cerdik pandai, mudim dan orang lain yang dianggap perlu. Begitulah cara susunan pemerintahan pada zaman dahulu kala. Kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras adalah aman dan tentram. Setelah berpuluh tahun Ramau Ratu Remindang Sakti memerintah di kerajaan Sungai Pepinau beliau merasa sudah tua sedangkan putranya Agung Tua belum juga beristeri beliau bermaksud sudah sepantasnya kedudukan raja ini digantikan oleh anaknya yaitu Agung Tua. Maka pada suatu hari beliau memanggil anaknya itu supaya mengahadap beliau.
Setelah datang Agung Tua dihadapan beliau maka beliau mengatakan kepada Agung Tua : “Hai Agung Tua, aku memanggil engkau ialah aku akan mengabarkan halku kepadamu. Aku ini sudah tua, dan kita telah berpuluh-puluh tahun tinggal di dusun ini, kerajaan kita aman dan tentram, sudah sepantasnya kini kamu menggantikan aku. Oleh sebab itu aku beritahukan kepadamu bahwa kamu wajib mencari isteri lebih dahulu. Kamu lah menggantikan aku bila kamu telah beristeri, dan ajaklah hulubalang-hulubalang kita pergi merantau untuk mencari putri anak raja yang bakal dipinang.”
Maka menjawablah Agung Tua : “Wahai bapakku. Kemana aku mencari jodoh, sedangkan aku orang muda yang belum mempunyai pengalaman, barangkali sulit untuk mendapatkannya. Apalagi akan mencari anak orang yang baik-baik, tentu akan menanggung segala macam rimpitan dan bala yang besar, sedangkan aku belum ada latihan dalam segala rupa peperangan.”
Lalu Ramau Ratu berkata : “Engkau wajib berlatih terlebih dahulu dengan Kepingus, hari ini Kepingus akan aku panggil.”
Lalu Ramau Ratu memerintahkan untuk menjemput Kepingus. Dan setelah Kepingus sampai di dusun Kutau Johor, Ramau Ratu menyerahkan Agung Tua kepada Kepingus supaya di ajar main anggar, kuntau dan segala-segala macam pengajaran yang diperlukan untuk menghadapi musuh; Beberapa lamanya Agung Tua menghadapi segala macam pengajaran dari Kepingus. Maka tamatlah segala pelajaran yang ada pada Kepingus; Sesudah itu Ramau Ratu memanggil Lembu Tapi dari Lubuk Asam supaya memberikan pelajaran pula kepada Agung Tua, maka tamat pula pelajaran dari Lembu Tapi. Sudah itu diserahkan pula kepada orang-orang yang dipandang gerot. Telah beberapa banyak orang gerot-gerot, dan telah berapa lamanya Agung Tua menuntut pelajaran segala macam ilmu pengetahuan urusan menghadapi segala bala bencana peperangan pada zaman itu. Agung Tua menghadap bapaknya Ramau Ratu; Hai bapakku, aku telah sudah mempelajari segala macam ilmu kegerotan untuk menghadapi segala bala bencana dalam peperangan. Aku mengingatkan perintah bapak terhadap diriku pada tahun-tahun yang sudah supaya aku mencari jodoh. Sekarang segala persiapan menghadapi musuh telah aku pelajari. Oleh sebab itu aku bertanya dan mendatangkan permintaan terhadap bapak kemana aku pergi dan anak raja dimana akan kuambil. Siapa-siapa untuk temanku merantau.
Ujar Ramau Ratu: “kalau sebenarnya, anakku telah berminat akan menurutkan segala amanatku dahulu, maka akan aku panggil segala hulubalangku di sepanjang Sungai Pepinau dan Sungai Deras.”
Maka diperintahkan Ramau Ratu salah seorang hulubalang beliau untuk memanggili para hulubalang di sepanjang Sungai Pepinau dan Sungai Deras supaya kumpul di Kutau Johor. Setelah semua hulubalang berkumpul maka diadakanlah musyawarah pada hari yang ditentukan.
Di dalam musyawarah Ramau Ratu mengatakan: ”Hai segala teman-temanku! Aku memanggil kalian ke Kutau Johor ini untuk bermufakat tentang halku. Sudah sepatutnya kepemimpinanku di Kerajaan Sungai Pepinau diganti, sebab aku sudah tua oleh seba itu aku serahkan kepada teman-temanku sekalian.”
Maka semua hulubalang satu persatu menjawab perkataan Ramau Ratu. Semua hulubalang menjawab dengan jawaban yang sama: “atas pembicaraan Ramau Ratu tentang penggantian raja dalam Kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras ini telah menjadi kebulatan dari kami sekalian bahwa yang akan menggantikan Ramau Ratu tidak lain ialah Agung Tua. Tentang akan mencarikan jodoh Agung Tua kami minta fatwa dari Ramau Ratu, dan akan kami turut biar bagaimana sukarnya sampai mendapatkan jodoh Agung Tua.”
Ramau Ratu menjawab lagi: “tentang teman-temanku akan berusaha mencarikan jodoh Agung Tua supaya teman-temanku sabar dahulu dan aku akan mencoba datang ke Kutau Demak, menurut ramalanku Ratu Demak sekarang dalam berjaga-jaga mengawinkan anaknya Putri Mayang Mengurai, dan aku amanatkan kepada kamu sekalian bahwa dalam tempo dua tiga hari ini jangan dulu kamu kemana-mana dengan terus berjaga-jaga sebab aku akan membawa putri anak Ratu Demak ke Kutau Johor ini. Segala Mudim turut berjaga-jaga pula dan bantu aku dengan jalan halus.”
Akhirnya dengan kesaktian Ramau Ratu Remindang Sakti sampailah beliau ke Kutau Demak. Beliau menyamar menyerupai orang yang sangat tua. Maka pada suatu malam waktu Putri Mayang Mengurai duduk bersanding dua, Putri Mayang Mengurai jatuh sakit, kepala pusing, beberapa orang Mudim dari Kutau Demak itu memantrainya tetapi tidak juga sembuh, oleh karena orang Kutau Demak mengetahui bahwa ada seorang tua sekarang tinggal di dusun Kutau Demak apakah patut dipanggil agar minta tolong dimanterai atau jampi Putri Mayang Mengurai. Maka Ratu Demak suruh panggil orang tua itu supaya datang ke rumahnya, dengan segera perintah Ratu Demak itu dijalankan, setelah datang orang tua itu ke rumah Ratu Demak beliau menyerahkan bakul beberasan tanda minta pertolongan supaya anaknya yaitu Putri Mayang Mengurai dimantrai atau jampi.
Berkata Ratu demak: “Hai, orang tua aku minta tolong jampikan anakku ini, mudah-mudahan ikhtiar orang tua dapat dikabulkan Mahadewa.” Jawab orang tua itu: “Baiklah.”
Maka Ramau Ratu Remindang Sakti mendekati Putri Mayang Mengurai lalu beliau sapu kepala putri dengan sapu kesaktian. Denagn kesaktian Ramau Ratu Remindang Sakti rupanya semua orang yang dekat tahta persandingan Putri Mayang Mengurai tidak ada yang sadar, beliau dudukkan dayang putri menggantikan Putri Mayang Mengurai duduk diatas tahta tersebut bersanding dua dengan pengantin laki-laki. Dan Putri Mayang Mengurai langsung dibawa oleh Ramau Ratu Remindang Sakti pulang dengan mukjizat beliau ke Kutau Johor. Orang-orang Dusun Kutau Johor memang selalu menantikan Ramau Ratu kembali. Mudim selalu pula berjaga-jaga sambil memanggang kemenyan. Para Mudim telah mengetahui bahwa Ramau Ratu sedang berada di udara dengan membawa seorang putri yang masih dalam keadaan lengkap pakaian pengantinnya. Mudim memberitahukan kepada anak-anak dusun dan keluarga rumah Ramau Ratu bahwa mendah atau tamu barangkali tidak berapa lama lagi akan tiba, maka bersiap-siaplah menunggu kedatangannya. Keluarga Ramau Ratu dan anak-anak dusun bersiap menunggu tamu. Tidak berapa lamanya dengan tidak disangka-sangka Putri Mayang Mengurai telah duduk diatas tilam persediaan, dengan tidak disangka-sangka pula Ramau Ratu telah duduk pula di tengah khalayak ramai di dekat para hulubalang beliau di balai pertemuan di tengah Dusun Kutau Johor. Beliau berseru di tengah-tengah khalayak, menyerukan bahwa beliau telah pulang dari Kutau Demak membawa bakal jodoh Agung Tua yang bernama Puteri Mayang Mengurai anak dari ratu Demak.
Ujar Ramau Ratu : “Aku ambil puteri itu dalam keadaan bersanding dua dan aku gantikan dengan dayangnya duduk bersanding. Kita di dalam dusun Kutau Johor ini wajib waspada, entah kan malam entah kan siang musuh sampai, entahkan dengan cara halus, kita rasanya tak urung lagi diginggang musuh. Para hulubalang bersiap sedialah menantikan musuh, para Mudim siap sedia pula membakar kemenyan untuk mengetahui musuh dengan jalan halus minta gatik minta gimbari dengan dewa dan duata. Pintu gerbang di muka lawang terus dijaga oleh orang yang gerot-gerot.”
Akhirnya setelah orang-orang sekujur Sungai Pepinau dan Sungai Deras mendengar Kutau Johor telah bertamu Puteri Mayang Mengurai anak dari Ratu Demak maka berduyun-duyunlah datang ke Kutau Johor. Ada yang pulang ada yang pergi laki-laki perempuan tanda gembira, masing-masing ada yang membawa tikar pandan halus, ada yang membawa bahan-bahan makanan, bermacam-macamlah cara-cara adat yang betul-betul lagi bersatu padu, tiap-tiap sesuatu hal buruk atau baik tidak sekali-kali meninggalkan sifat kegotong royongan. Puteri Mayang Mengurai terus diriang gembirakan oleh anak-anak dusun. Tetapi rahasia yang teguh bagi puteri Mayang Mengurai, tidak nampak kesusahan-kesusahan dalam hatinya. Puteri Mayang Mengurai telah diperkenalkan dengan Agung Tua. Dengan perkenalan antara Puteri Mayang Mengurai dengan bakal jodohnya yaitu Agung Tua maka bertambah gembiralah rupanya Puteri. Apalagi Puteri adalah anak seorang raja yang memiliki budi pekerti yang baik, semua tingkah laku dan gerak-geriknya sangat menggembirakan yang memandang tidak ada satupun yang tercela. Dan pandangan anak-anak dusun memang sudah pada tempatnya puteri Mayang Mengurai menjadi permaisuri raja. Setelah beberapa lamanya Puteri Mayang Mengurai di Dusun Kutau Johor, seorangpun belum ada yang mencari puteri tersebut melainkan perang secara halus, tuju menuju yang sangat dahsyat. Untunglah para Mudim yang berada di dusun Kutau Johor semuanya adalah Mudim yang berpengalaman. Lama kelamaan berhentilah tuju menuju sebab rupanya usaha orang dari Demak tidak ada yang memberkati. Belum pula berselang berapa lamanya sesudah perang halus maka tibalah orang-orang dari Demak rupanya bermaksud akan menggempur dusun Kutau Johor. Akan tetapi Ramau Ratu Remindang Sakti telah sedia seorang hulubalang di luar dusun untuk menunggu-nunggu kedatangan musuh. Maka tibalah orang orang dari Kutau Demak sebanyak 9 jung atau perahu layar. Setelah mereka turun dari jung nya masing-masing membahana bunyi orang dari Demak mengatakan “Siapa jantan”.
Maka disongsonglah oleh hulubalang REMINDANG SAKTI sambil mengatakan : “Hai kawan kawan dari Kutau Demak! Kawan kawan sabarlah dulu ,jangan sekali sekali memanggil mana jantannya dusun ini ; Saya ini seorang jantan yang tulen hingga cakap menunggu seorang diri diluar dusun,tetapi sekarang saya katakan kepada kawan kawan,menurut maksud kawan kawan datang kesini tidak asing akan menuruti jejak Putri Mayang Mengurai. Padahal Putri Mayang Mengurai ada didusun kami ini, dijaga oleh hulubalang hulubalang RAMAU RATU REMINDANG SAKTI yang sudah ternama kegerotannya,oleh sebab itu kalau kita berperang belum tentu siapa yang kalah, sebab dimana tebing tidak berbalas, dimana bukul yang tidak hancur. Sekiranya kamu dari KUTAU DEMAK datang menuruti Putri Mayang Mengurai ,dengan cara jujur dan lurusatau kamu berfikir bahwa kita bakal tidak orong lagi bakal serumah,maka naiklah kawan kawan kedusun kami ini aku akan menjamin keselamatan kawan kawan dari timbulnya bala bencana.”
Bermacam macamlah fatwa dan nasehat hulubalang itu hingga hati sekalian mereka itu menjadi lemah dan berjanji itu kepada hulubalang yang menyongsong beliau beliau itu,bahwa supaya hulubalang mengabarkan kepada Ramau Ratu bahwa kedatangan orang-orang dari Demak adalah baik dan damai. Lalu hulubalang tersebut naik ke Dusun Kutau Johor mengabarkan kepada Ramau Ratu Remindang Sakti bahwa di luar dusun ada datang sembilan jung dari Kutau Demak, dan kedatangan mereka itu adalah secara jujur dan baik serta damai.
Ramau Ratu mengatakan kepada hulubalang : “songsonglah orang-orang Demak dengan cara raja-raja, bawa cerana yang lengkap dengan isinya beserta para hulubalang, dan Mudim, bawa mereka naik ke dusun kita ini.”
Maka pergilah mereka beramai-ramai semua terdiri dari orang yang gerot. Setelah tiba maka,
berkatalah seorang mudim yang tertua : “kawan-kawanku sekalian, atas kedatangan kawan-kawan ke dusun kami yang sangat sunyi sepi ini, kami merasa sangat gembira dan berterimakasih, maka kami ini diperinthkan oleh Ramau Ratu untuk menyongsong dan menjemput kawan-kawan beliau minta agar semua kawan-kawan dengan hati suci bersih kiranya mendarat ke dusun kami Kutau Johor ini. Marilah kawan-kawan kita berangkat.”
Mereka terus beriringan naik ke dusun Kutau Johor. Sesampainya di rumah Ramau Ratu dijamulah tamu dengan sepatutnya. Terpaksalah tamu itu diriang gembirakansebagai berjaga-jaga dalam sesuatu peralatan. Satu hari satu malam tamu di rumah Ramau Ratu, barulah tamu dari Demak itu berkata kepada Ramau Ratu bahwa sangatlah perlu atas kedatangannya ini.
Ramau Ratu menjawab : “Hai kawan-kawan dari Kutau Demak cobalah kami ingin mendengar kabar baik dari Ramau Ratu Demak.”
Jawaban orang Demak : “Kami datang kesini tidak lain untuk mencari kawan dengan kenalan, kawan yang baik kenalan yang sempurna. Dan yang kedua, kami ini mencari, sebab kami ada kehilangan seorang puteri anak Ratu Demak. Menurut kabar Ramau Ratu ada mendapat seorang Puteri di tengah jalan., kalau benar kami hendak bertemu lebih dahulu, apakah ia puteri kami apakah bukan. Hanya itulah maksud dan tujuan kami datang kesini.”
Lalu Ramau Ratu menjawab : “kalau itulah maksud kamu datang kesini, kawan baik tidakkan dapat, kenalan yang sempurna tidakkan boleh. Begitu juga kamu mau mencari puteri dapat di jalan, kami tidak sekali-sekali akan mempergunakan dan menjodohkan anak kami dengan puteri dapat di jalan, sebab puteri dapat dijalan ialah anak kubu anak setuyu anak kampang orang berkarang. Jadi segala yang kamu cari itu tidak ada pada kami, kalau itulah maksud kamu, maka kamu kembalilah ke kutau Demak. Kabarkan kepada Ratu Demak bahwa kami Kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras mau berkawan dan berkenalan dengan orang yang sebagai pepatah kami “ndak bekundang dan bekawan jeme tekian same mati daging” serta kami sekarang ada menaruh seorang Puteri, namanya Puteri Mayang Mengurai anak Ratu di Demak. Dapat diambil di atas takhta pengantin sedang bersanding dua, bukan diambil dengan paksa bukan diambil dengan rayuan, dapat diambil ngikut sendiri. Kalau begitu kembalilah kamu.”
Menjawab lagi orang Demak : “kalau macam itu kata Ramau Ratu kami mohon ampun beribu ampun, kami mohon maaf beribu maaf, salah kata dapat diulang, salah berfikir seumur hidup. Maka kami bukan salah berfikir tetapi adalah salah kata.”
Jawab Ramau Ratu : “kalau bukan kamu salah berfikir, seolah-olah kamu salah berkata, ampun kamu kami ampuni, maaf kamu kami maafi, salah kata dapat diulang.”
Ujar orang Demak : “wahai Ramau Ratu, kami lebih dahulu minta ampun dan maaf atas kesalahan kami terdahulu, kerja kami datang ke Dusun Kutau Johor ini ialah untuk mengikuti jejak langkah Puteri Mayang Mengurai anak Ratu dari Demak, kabar-kabar embun dibawa angin bahasa putri yang kami cari itu ada di rumah Ramau Ratu di Kutau Johor ini.”
Jawab Ramau Ratu : “kalau benar kamu mencari Puteri Mayang Mengurai katakan kepada Ratu Demak bahwa puteri Mayang Mengurai ada kami simpan di Kutau Johor ini dengan tidak kerembunan dan keranginan, di tengah-tengah adat istiadat, berdinding lembaga yang teratur, dijaga oleh orang yang gerot-gerot.”
Menjawab lagi orang Demak : “kalau begitu kata Ramau Ratu, bahwa Puteri Mayang Mengurai ada disini, kami merasa senang hati mendengarnya, duduknya Puteri berpagar jati, tempat yang bagus sudah pasti. Kulau yang kami bawa ini, atas perintah segala famili, kulau yang baik bakal diberi jawaban yang baik kami harapi dari Ramau Ratu junjungan kami.”
Maka menjawab Ramau Ratu : “aku menitip pesan dengan kalian tolong samapaikan kepada Ratu Demak bahwa Ramau Ratu Kutau johor berpesan kepada warang beliau, mulai pesan ini sampai maka mulai ini hari pula kita sewarangan, bahwa kulau baik telah kami terima, dan kami minta supaya Ratu Demak dan adik sanak disitu datang kek Kutau Johor ini, bahwa kita akan mengadakan kaguak’an berjaga-jaga menikahkan Mayang Mengurai dengan anakku Agung Tua mulai malam sepuluh yang akan datang kaguak’an dimulai. Atas kedatangan adiak sanak dari Kutau Demak sangat aku harapkan.”
Lalu orang Demak pun menjawab : “kalau begitu kata Ramau Ratu jadilah! Pesan Ramau Ratu akan kami sampaikan dan kami sekalian menjunjung jari sepuluh minta ampun dan minta maaf atas segala kesalahan kami terhadap Ramau Ratu dan adik sanak disini, beserta kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga atas budi baik terhadap kami, maka mulai hari ini kami dapat Ramau Ratu mengizinkan kami bahwa kami akan kembali ke Kutau Demak.”
Menjawab Ramau Ratu : “jadilah kalau kamu mau kembali kami merelakan, begitu juga kalau sekiranya ada kesalahan kami kepada kamu juga kami minta maaf.”
Lalu beliau memerintahkan kepada semua hulubalang nya serta mudim untuk mengantar mereka sampai ke tepi pantai di dekat jung yang akan mereka naiki itu. Maka berangkatlah orang-orang Demak dengan diantar oleh para hulubalang dan mudim dari Dusun Kutau Johor samapi mereka menaiki jung yang akan dilayarinya itu. Setelah pulang orang-orang dari Kutau Demak beliau mengumpulkan pula segala laki-laki deasa yang ebrada di dalam Dusun Kutau Johor, mengabarkan bahwa akan mengadakan berjaga-jaga tentang Kaguak’an menikahkan Agung Tua dengan puteri Mayang Mengurai tentang segala apa yang akan dikerjakan, serta hari dan waktu yang akan dipakai supaya adiak sanak mengetahui. Maklumlah anak raja-raja kaguak’an itu tentu diadakan secara besar-besaran yaitu 40 hari 40 malam. Di dalam kaguak’an membuat para hulubalang banyak plesir, terkadang di dalam terkadang diluar dusun Kutau Johor melihat-lihat kalau ada musuh tiba, begitu juga para mudim membakar kemenyan minta bantuan dari dewa dan duata, bunyi-bunyian seperti serdam, kerilu, bensi, tidak redanya bergantian menghembusnya, rejung dan tembang riuh bunyinya. Begitulah cara berjaga-jaga dan kesenian pada zaman dahulu kala di tanah kerajaan Sungai Pepinau. Cara ini adalah masih membawa cara dari Pasemah, hanya saja pakaian pengantin perempuan seperti dikepalanya itu bernama pagar babi. Ia adalah bawaan dari Putri Mayang Mengurai dari Demak. Setelah cukuplah kaguak’an menikahkan Agung Tua dengan Putri Mayang Mengurai selama 40 hari 40 malam kaguak’an selesai. Adik sanak jauh dan dekat kembali ke dusunnya masing-masing. Selesailah sudah pernikahan dua sejoli itu. Hiduplah mereka dengan aman dan tentram serta damai hidup berkasih-kasihan, hidup secara anak raja-raja yang penuh dengan kegembiraan dan kesenangan. Setelah beberapa tahun Agung Tua dalam menjalankan bahtera rumah tangga, bapaknya Ramau Ratu Remindang Sakti merasa telah tua, dan terasa telah lemah menjalankan pemerintahan, dan telah selayaknya Ramau Ratu atau raja digantikan anaknya yakni Agung Tua. Ramau Ratu Remindang Sakti memanggil anaknya Agung Tua dua laki isteri, supaya berembuk tentang beliau telah litak dalam menjalankan pemerintahan. Maka setelah datang kedua anaknya dihadapan beliau, berembuklah beliau dengan Agung Tua perihal penggantian beliau menjadi raja. Tetapi Agung Tua tidak menandakan mau atau tidak mau menggantikan bapaknya itu menjadi raja.
Seolah-olah ia berkata dalam pikirannya : “aku tidak menolak dan tidak pula mengatakan mau dalam menggantikan bapak menjadi raja atau Ramau Ratu. Jikalau aku menolak tentu tidaklah pantas, sebab bapak sudah tua dan litak. Kalau aku katakan aku telah sanggup menjadi raja menggantikan bapak, berarti aku telah cukup pikiran dan pengalaman, tinggal lagi aku serahkan kepada bapak yang mana baiknya aku terima.”
Lalu Ramau Ratu mengatakan : “Kalau begitu Agung Tua, terimalah penobatanmu menjadi raja dalam daerah Sungai Pepinau dan Sungai Deras ini. Maka aku akan memanggil semua hulubalang serta orang-orang tua yang gerot yang berada di sepanjang Sungai Pepinau dan Sungai Deras ini.”
Perembukan putus antara Ramau Ratu dan anaknya Agung Tua dua laki isteri. Ramau Ratu memerintahkan para hulubalang beliau untuk memanggili semua hulubalang, mudim dan orang-orang yang gerot serta cerdik pandai dalam daerah kerajaannya untuk berkumpul ke Kutau Johor. Lalu hulubalang yang diberi perintahpun segera pergi berjalan untuk menemui orang-orang yang dipanggili. Lalu hulubalang yang diperintahkan pulang pun terus melapor kepada Ramau Ratu bahwa atas perintah beliau telah dijalankan. Tidak selang berapa lamanya sampai pada waktunya tibalah segala yang diundang ke dusun Kutau Johor untuk menghadiri panggilan Ramau Ratu. Semua yang dipanggil beratur duduk di balairung hingga penuh sesak di dalamnya. Setelah mereka semua terkumpul maka Ramau Ratu datang bersama anaknya yakni Agung Tua dan duduk di hadapan semua hadirin. Oleh karena tidak ada lagi orang yang ditunggu lalu beliau berkata pada khalayak ramai.
Ujar beliau : “hai segala hulubalang, mudim, orang tua, dan segala anak dusun yang hadir di dalam musyawarah ini. Aku sengaja memanggil kamu sekalian, pertama ialah aku mengabarkan bahwa aku sudah tua, merasa telah lemah baik tenaga atau fikiran, maka telah sepantasnya aku ini digantikan oleh anakku Agung Tua.”
Maka menjawab segala hadirin dan sebagai perwakilan dalam menjawab ini ialah Kepingus : “atas pengkhabaran Ramau Ratu kepada kami tentang menggantikan Ramau Ratu menjadi raja, maka kami mempunyai fikiran tentang penggantian memang sudah selayaknya Agung Tua mulai ini hari kita nobatkan menjadi raja pada sepanjang dua sungai ini. Tetapi sungguhpun Agung Tua telah dinobatkan menjadi raja , atas permintaan kami agar kiranya pemerintahan masih tetap pelaksanaannya dari Ramau Ratu sendiri sebagai mengajar Agung Tua dalam segala hal yang berkenaan dalam pemerintahan.”
Jawab Ramau Ratu : “Asal aku masih ada tenaga, Agung Tua masih tetap berada di bawah pimpinanku dan kepada semua hulubalang, mudim, serta semua yang hadir di dalam balairung ini, mulai ini hari telah sudah ketetapana kita bahwa Agung Tua menggantikan saya menjadi pimpinanmu sekalian. Maka kepada kamu sekalian aku serukan apabila Agung Tua salah atau tidak benar dalam menjalankan kepemimpinannya maka tegurlah, kalau benar turutlah. Selagi aku masih hidup pimpinan dan segala fatwah-fatwah terhadap kamu sekalian masih ditanganku. Demikianlah aku aturkan di hadapan kamu sekalian.”
Akhirnya musyawarahpun berakhir semua hadirin pun kembali ke dusun masing-masing. Maka pada hari yang beliau dinobatkan itu mulailah beliau berdiri sebagai seorang pemimpin atau raja di kerajaan Sungai Pepinau dan Sungai Deras. Agung Tua mulai diajari ayahnya Ramau Ratu Remindang Sakti cara memerintah dan menghadapi masyarakat ramai dan lain sebagainya. Dengan bertahun-tahun Agung Tua selalu diasuh oleh ayahnya yaitu Remindang Sakti, dengan berkat pula kecerdasan Agung Tua cara memimpin dan dalam segala hal urusan kepemimpinan dilaksanakannya di daerahnya itu rakyat merasa Agung Tua lebih bagus dan lebih cerdas dari cara-cara bapaknya. Setelah beberapa lamanya Agung Tua memerintah, maka pada suatu hari orang-orang dusun Kutau Johor sedang kumpul di halaman rumah di tengah-tengah dusun,
lalu datanglah Remindang Sakti dan berkata : “nah anak-anakku sekalian, aku ini malam hendak kembali ke kahyangan tinggi, supaya kamu jangan terkejut. Sedangkan pengganti aku sudah ada ialah Agung Tua tempat kamu berpaham. Kalau kamu ada sesak dalam segala hal sebut pantau namau aku sebab tempat aku di kahyangan tinggi.”
Kahyangan tinggi ialah menurut keyakinan agama dewa. Esok harinya gemparlah dalam dusun Kutau Johor bahwa Remindang Skati tidak kelihatan lagi, remindang Sakti sudah silam menurut keyakinan agama dewa, Remindang Sakti itu ialah balik sekasarnya. Mendengar Ramau Ratu Remindang Sakti sudah silam, maka gemparlah pula dalam daerah sepanjang Sungai Pepinau dan Sungai Deras. Maka banyaklah yang datang menyelawati kehilangan Remindang Sakti itu ke Dusun Kutau Johor. Dengan kehilangannya Ramau Ratu Remindang Sakti, maklumlah kehilangan seorang pemimpin yang ulung, tentunya lama sekali rakyat daerah itu berkabung turut berduka cita atas kehilangan beliau. Semenjak hilangnya Remindang Sakti maka Bahasa Pasemah telah sedikit berubah menjadi bahasa-bahasa baru. Dan adanya Pagar Babi pakaian pengantin perempuan telah menjadi adat hingga sekarang ialah bawaan Puteri Mayang Mengurai dari Kutau Demak atau dari tanah Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar